Satu minggu lalu adalah perjalanan di Palu paling panjang, dari Senin malam hingga Sabtu Pagi saya ada di sana. Dua acara berbeda yang sama-sama bertempat di Palu membuat saya mendapatkan dua Surat Tugas. Satu hal tentang monitoring Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, yang satunya lagi adalah Acara Sailtomini, di mana juga sedikit terkait tentang KEK. Berhubung yang terkait dengan KEK Palu adalah bagian saya di kantor, maka hal-hal yang terkait dengan Palu, saya yang berangkat.

Sebenarnya, saya tidak terlalu suka di sana karena panas sekali. Bahkan melebihi kota kelahiran saya, Balikpapan. Tapi, berhubung ini tugas, ya sudahlah, toh saya suka dengan kerjaan tentang KEK ini. Nah, di malam terakhir saya di sana saya tidak bisa tertidur.

Malam itu tanpa sengaja, di tengah badan yang sudah mulai mengantuk saya membuka channel Trans 7, lalu saya melihat sebuah serial berjudul Kebangkitan Ertuğrul yang versi Bahasa Inggrisnya berjudul Resurrection Ertuğrul  di mana dalam bahasa aslinya, yakni Turki, serial ini berjudul Diriliş Ertuğrul.

Ya, akhir 2013 saya sempat kegandrungan serial Mahadewa dan dilanjutkan dengan Mahabharata (namun, karena belakangan banyak orang yang suka Mahabharat, saya jadi gak ngikutin lagi Mahabharata: jadinya mainstream, hahahaha). Tahun 2013 akhir bahkan saya sempat menuliskannya dalam sebuah posting yang walhasil membuat blog saya tiba-tiba "dibanjiri" pengunjung. Ya, hitungannya dengan sebuah blog yang biasa-biasa saja dan sepi pengunjung, angka view posting saya yang satu itu sangat tinggi. (Sampe-sampe saya masukin adsense, untuk melihat seberapa harga tulisan saya yang satu ini di "pasar").

Trend Serial Turki: Kebangkitan Ertugrul 

Nah, sekarang nampaknya pemirsa Indonesia mulai bergeser ke serial Turki. Ya, beberapa waktu lalu sudah muncul serial yang kalau tidak salah berjudul Masa Kejayaan. Sebuah cerita tentang Sultan Turki yang konon paling mahsyur. Saya tahu gara-gara suatu malam menginap di rumah Bibi saya. Nampaknya, serial Ertugrul ini mirip sekali kejadiannya saat Mahadewa akhirnya ikut-ikut ditayangkan karena kesuksesan Mahabharata.

Saya selalu tertarik dengan sejarah, dan sekejap saya melihat serial ini, saya langsung tahu ini pasti soal sejarah Bangsa Seljuk yang merupakan cikal bakal Kerajaan Adidaya Turki Usmani. Ya, Ertuğrul adalah ayah dari Usman, raja pertama Kerajaan Turki ini. Begitu saya melihat pertama kali di Trans 7 itu, maka pastinya saya lalu bertanya, di mana saya bisa nonton online serial Kebangkitan Ertuğrul ini? Apakah sudah ada di Youtube? Kalaupun ada, apakah sudah ada yang ber subtitle Bahasa Inggris (syukur-syukur Bahasa Indonesia, yang penting jangan dubbing-an Indonesianya, heheheheh).

Beruntung, untuk nonton online sudah ada sesorang user yang telah membuat Playlist-nya di Youtube, lengkap dengan Sub-title Bahasa Inggrisnya:

Teman-teman bisa buka di link ini: Nonton Serial Ertugrul Online (youtube) 
atau kalau yang ingin English Subtitle klik di sini 



Menurut pandangan saya, serial ini cukup bagus. Ada tiga hal yang saya suka 1) kostum; 2) lokasi dan 3) koreografi berantemnya.

Kostum dari serial ini terlihat sangat digarap serius dan detail. Tidak abal-abalan ala sinetron Indonesia. Bener-bener kelihatan kayak jaman peradaban di sekitar Turki abad ke-12 dengan segala pernak-pernik baju hingga kehidupan nomadennya. Nah, karena tinggal di daerah nomaden, maka jangan heran kalau dalam serial ini kita banyak melihat hamparan padang rumput. Lokasinya keren. Entalah, kelihatanya sih benar-benar padang rumput sungguhan dan bukan green screen. Hanya kastil-kastilnya masih terlihat bahwa itu olahan video editor.

Hal yang membuat saya sedikit kagum adalah, koreografi beranteman pakai pedang cukup yahud. Yap, memang agak berdarah-darah (sehingga tidak cocok untuk anak-anak), tapi untuk ukuran sebuah serial, setidaknya koreografi dari serial ini terlihat serius digarap dengan basis bela diri yang mungkin adalah tradisi dari bangsa Seljuk (Turki saat ini).

Nah, silakan kalian menilai sendiri serial ini. Sejujurnya, saya yang suka sekali subject soal sejarah, agak takut kalau serial ini melenceng jauh dari sejarah aslinya. Tapi berhubung saya belum pernah baca detail dari kisah Ertuğrul ini, maka biaralah...biarlah saya menikmatinya :P

Kalau mau lihat versi aslinya di Turki, sudah tersedia di Yotube juga



terus, kalau mau pake subtitle English ertugrul, bisa di download di sini:



Dirilis: Ertugrul Subtitles

download videonya dari youtube, lalu "pasangkan" file SRT dan videonya, buat nama video dan srt sama agar bisa berjalan. Nah...karena ini serial Turki, kita penonton Indonesia kayaknya harus cukup bersabar dengan kehadiran subtitle bahasa indonesia, sudah dapat bahasa inggris aja udah lumayan, walaupun kita tidak tahu juga subtitle bahasa inggris bisa selalu mengikuti episode Ertugrul yang kalau di Youtube sudah sampai episode ke-27

Hampir 3 bulan blog ini tanpa posting... banyak hal yang terjadi:

1. Akhirnya saya sudah pindah kos
2. Akhirnya saya mengambil kursus IELTS dan sudah daftar lagi tes IELST selanjutnya
3. Akhirnya saya mengajukan cuti, yeaaahhh (tidak penting sih)
4. Akhirnya ke Jogja
4. Dual hal, dalam agenda dalam blog sebelumya belum dapat terlaksana...hahaha

Oke, jadi apa yang ingin saya tuliskan pada blog ini? Hmmm.. tidak banyak. Karena juga namanya catatan ringa, tulisan hanya diperuntukan bagi saya untuk mengingat detail kehidupan saya di hari-hari sekarang untuk masa depan.


Rasa-rasanya, Bulan Ramadhan adalah momen-momen yang selalu dimanfaatkan orang untuk melakukan banyak perubahan...

Tahun lalu, rasa-rasanya, saya melewatkan momen ini dengan sebuah ungkapan "wussssss"....setelah saya buka-buka, catatan puasa tahun lalu, hal yang paling saya ingat adalah Piala Dunia 2014. Final Piala Dunia ditonton di sebuah Hotel di Palembang. Blog saya menctat, bahwa, saya baru saja menyelesaikan menonton seril Mahdewa yang beberapa bulan kemudian menjadi "hits" di blantika per-serial-an Indonesia.

Bagaimana dengan Tahun ini?

Mungkin saya akan sedikit kesepian, karena beberapa teman sudah ada yang sekolah di luar negeri, dosen pembimbing skripsi "abadi" yang sudah lebih sering di Jogja (karena rezim telah berganti), dan sudah semakin sibuknya orang-orang..hanya kegiatan-kegiatan rutin yang harus kulalui, jika tidak ada perubahan besar yang aku rencanakan, mungkin..Ramdahan ini akan berlalu begitu saja.


Oke, ini rencana-rencana besar:

1. Pindah kos (ke tempat yang lebih "khusyuk")

2. Merapikan hapalan-hapalan yang lepas (parah banget!)

3. Kursus IELTS/TOEFL (nyerah belajar sendiri :P)

4. Mengikuti kegiatan Voluntary (entah apa itu)

5. Melamar....#aseeek


Oke, khusus no. 5 itu saya juga belum tahu siapa yang akan dilamar. Tapi kayaknya seru aja kalau ada yang dilamar pas Bulan Ramadhan. Siapa tahu aja, pas lagi asik-asik melakukan kegiatan Ibadah di Bulan Ramdahan, ada bidadari turun dari langit lewat yang bisa diajak menikah..... hahahahaha

Biarlah, tulisan ini menjadi semacam Rencana Kerja, yang tertulis adalah doa, yang direncanakan adalah bagian dari usaha....sisanya...adalah milikNya


Minggu lalu, setelah sekian lama saya tidak "jalan-jalan", akhirnya saya putuskan juga untuk "jalan-jalan". Ya, ini adalah kegiatan puncak akhir selama sebulan penuh saya ingin melakukan peremajaan pikiran. Ha ha ha..

Kali ini saya mengikuti Open Trip yang informasinya saya peroleh dari seorang teman yang memang dahulu dikenal dengan julukan "Ratu Jalan-Jalan". Pernah sama-sama gaol di CLR (Community of Lampah-Lampah ra Jelas), sebuah komunitas para alumni Persma Equilibrium yang memiliki hobi jalan-jalan dan foto-foto. Beberapa tahun terakhir, saya sudah jarang sama mereka, apalagi setelah pindah ke Jakarta. Bisa jadi, jalan-jalan kali ini adalah reunian CLR. CLR cabang Jakarta tepatnya. Ada tiga orang "anggota" CLR yang ikut dalam open trip ini, sisanya: suaminya teman, teman kerjanya teman, teman kerja di kantor lama teman, adik teman kerja di kantor lamanya teman, dan orang yang sama sekali tidak dikenal (karena ini open trip).

Biaya cukup murah meriah: Rp480ribu. Saya tahu, tidak perlu berharap banyak dengan kualitas si guide dan akomodasi dari open trip ini. Pastinya sangat minimalis. Uang saya transfer ke temannya teman saya yang bernama Dian. DP Rp300ribu dulu, sisanya dibayar di sana. Biaya ini tidak termasuk perjalan untuk menuju meeting point dan sewa alat snorkeling.

Oke perjalan dimulai. Rombongan teman dan teman-temannya saya, kumpul di Silipi untuk mencari Bus ke arah Pelabuhan Merak. Ada sebuah Bus yang tujuannya ke Merak tapi lewat dan masuk Serang dulu. Rekomendasi dari tour guide-nya, jangan ambil bus ini, karena bus ini akan memutar ke arah Merak. Ya, saya tahu sekali arah ke Serang, karena sudah beberapa kali ke Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang. Paling-paling bus jalur ini akan menuju ke Merak lewat simpang Labuan. Si kernet yang memaksa-maksa kami naik bis-nya, dan akhirnya gagal membujuk kami, mengumpat pada kami, "oooo katro!".. kami saling memandang dan tertawa geli. Ya, kami memang kaum muda kalangan menengah yang katro soal jalur per-bis-an. Beberapa menit kemudian kami mendapat bis yang kami inginkan. Bis Primajasa namanya.

Bis ini cukup penuh. Tapi sebagian sudah akan turun di Kebon Jeruk. Kami membayar Rp30ribu. Perjalanan ke Merak kira-kira 2 jam dari Jakarta. Saya tidak tertidur. Waktu saya habiskan untuk merenung dan sebagian untuk membaca. Teman saya tertidur, teman-teman teman saya entah duduknya di mana.

Sampai pulalah kami di Merak. Bertemu dengan teman lain yang datang langsung dari Tanggerang. Setelah 1 jam kami hanya duduk-duduk lesehan di depan Dunkin Donut Pelabuhan Merak, akhirnya Tour Guidenya datang. Kecewa? Tidak...saya sudah estimasi kualitas Tour Guidenya seperti ini. Lagi pula, saya ini sedang liburan, cukup sudah marah-marah dan menggerutunya, saatnya senang-senang. Kami berkumpul dengan anggota open trip lainnya yang ternyata sedari awal sudah bergentayangan juga di sekitar kami. Dari awal hingga akhir, saya tidak berkenalan dengan satu pun dari mereka.

Masuk ke Kapal Feri. Kami masuk ke kabin yang ada tempat duduknya. Belakangan saya baru tahu ini adalah peningkatan fasilitas tambahan dengan membayar Rp8000.-. Lalu, kami memilih untuk istirahat karena tahu perjalan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Ada satu hal yang mengganggu saya: TV yang memutar DVD serial Wiro Sableng. Entah, saya tertidur atau tidak, di kepala saya  terngiang-ngiang dialog ala-ala Serial Wiro Sableng yang tenar 15 tahun yang lalu. Jam 4.30 pagi, kami sampai di Bakauheni, Lampung.

Saya terpisah dengan rombongan teman-teman untuk urusan naik mobil. Rencananya kami akan menuju dermaga Ketapang. Karena si Tour Guide merasa akan sangat sumpek (ya jelaslah), karena hanya ada dua mobil dan dia harus membawa 15 orang, akhirnya 2 anggota rombongan dari kami dipisahkan untuk nebeng mobil dari Travel Agent yang lain. Nah, saya jadi sadar ternyata sesama tour guide mereka saling kenal mengenal lintas Travel Agent. Untuk ke Pahawang, pemain Travel agent-nya banyak. Lalu, di sana ternyata kita akan bertemu dengan para turis-turis open trip ini dari berbagai travel agent. Apalagi di saat saya ke sana, ada satu hari libur  nasional yang hanya selisih satu hari dengan akhir pekan. Mungkin, para kaum pekerja/buruh Jakarta banyak mengambil cuti di hari "kejepit"-nya sehingga bisa dikatakan ini adalah sebuah long week-end. Jadi, suasana pengunjung Pahawang kali ini konon lebih ramai dari biasanya. 

Setelah 3 jam perjalanan, kami sampai di Dermaga Ketapang. Saya tidur di perjalanan karena tidak bisa ngapa-ngapain. Paginya kami disuguhkan sarapan umpet-umpetan di rumah warga. Lalu ganti baju siap-siap untuk nyemplung. Saya sudah siap dengan celana pendek saja dan kaos bola. Kami menyebrang dari dermaga ke arah pulau Pahawang. Di 3/4 perjalanan akhirnya kami berhenti pada sebuah tepi pulau yang terdapat terumbu karang. Ini adalah pengalaman Snorkling pertama saya.

Teman saya berkata, "Ul ini pertama kali kamu Snorkling?", saya menjawab singkat "Iya".
Setelah di bawah air, di berkata lagi, "Ul itu kamu bisa!" (dengan suara yang sudah tercampur dengan angin laut dan gemercik air lautan)
"Iya...", lagi-lagi jawaban singkat, yang sebenarnya kalau saja ini saya jawab di daratan saya mungkin menjawab, "iyaa... ternyata tidak sesulit yang dipikirkan sebelumnya". Tapi karena saya masih fokus belajar menggunakan google dan alat snorkeling, saya berlalu saja...

Bagaimanakah ceritanya pengalaman pertama saya ini?

Oke, snorkeling sebenarnya tidak sulit. Apalagi yang sudah bisa berenang. Saya rasanya juga seperti terbang saja. Pelampung dan kaki katak membantu gerakan di air jadi tidak capek. Mungkin, hal baru yang saya alami adalah bagaimana bernapas hanya menggunakan mulut (toh hal ini juga sering kita lakukan kalau habis kecapean lari-lari). Hal ini karena hidung kita ditutup google (entah, namanya benar google apa tidak). Jadi hidung akan diam, dan mulut akan aktif menjadi alat penghisap dan pengeluar udara. Ini membuat selama kita menatap terumbu karang dan ikan-ikan di bawah, nafas kitalah yang menjadi backsound utama. Ada teman saya yang dia mengaku belum bisa berenang (sebenarnya untuk masalah mengapung untuk berenang dia sudah bisa, hanya saja belum bisa mengatur pergantian nafas ketika di air), ternyata sudah berkali-kali wisata snorkling (bahkan alat-alatnya dia bawa sendiri). Dia sudah merasa biasa-biasa saja untuk melakukan snorkeling, lagipula toh kita sudah menggunakan pelampung katanya.

Ia bertanya pada saya setelah beberapa puluh menit kami main-main di lautan, "Bagaimana rasanya snorkeling pertama kali?"
"Selalu ada yang pertama dalam hidup kita..", saya menjawab dengan sok bijak. Yang lucu, ada temannya teman yang sedari awal berkata-kata di atas perahu ke diri sendiri "tenang yang penting tenang, yang penting tidak panik" tapi pada praktiknya toh dia yang jadi paling panik di antara teman-teman yang lain. Hahahaha. Sebelum mendarat ke Pahawang, kami ke satu titik snorkeling lagi. Kali ini tempatnya lebih luas.

Sesampai di Pulau Pahawang, kami menuju rumah warga yang sudah berubah fungsi menjadi home stay kami. Jelas, pria-pria tidak kebagian kamar. Kami menaruh barang di luar. Setelah mengantri mandi dan makan siang, kami istirahat sejenak. Lalu sore-an, kami keluar lagi menuju lautan ke tempat yang katanya ada ikan Nemo alias Clown Fish.

Titik snorkeling kali ini adalah tempat penakaran si Ikan Nemo. Jadi si Nemo sengaja dikembang biakan di sana. Nah, ada beberapa hal yang saya sadari 1) ternyata si Ikan Nemo tidak akan bisa ke atas, dia adalah ikan pemalu, 2) untuk  itu harus agak menyelam untuk melihat si Nemo yang sering bersembunyi di anemon-anemon laut di dasar laut, 3) untuk menyelam di laut yang asin ternyata tidak mudah.

Saya pikir, dengan melempas pelampung badan saya akan tenggelam, ternyata tidak dan malah sebaliknya. Untuk menyelam ke dalam beberapa peserta tour butuh bantuan dorongan (literally sebuah dorongan) dari para guide. Sayangnya guide kami tidak melakukan itu. Dia hanya duduk-duduk di perahu motor. Huuuh. Saya sendiri belum berani menyelam. Lebih baik saya nikamati saja laut, ikan dan terumbu karangnya dan muter-muter nggak jelas di antara riuhnya peserta yang mencoba-coba melihat ikan Nemo di bawah.

Hari itu diakhiri dengan berkunjung ke sebuah tepi pantai pulau-pulau kecil yang terdapat "pasir timbul" yang menghubungkan kedua pulau itu. Sayangnya, karena sore, air laut sudah pasang sehingga pasir timbul itu tidak terlalu terlihat, jadi ini membuat seolah-olah kita bisa berjalan di atasnya tengah-tengah lautan.


Setelah malam, kami balik ke home stay kami di Pulau Pahawang. Malam tidak ada kegiatan, saya membaca buku di Musholla yang berjarak satu lemparan batu dari rumah penduduk yang kami "jajah" ini (karena alasan lampu yang lebih terang), setelah lelah membaca saya balik ke home stay lalu tidur. Katanya, malam itu, kawan-kawan yang lain dapat ikan bakar sebagai santapan khusus malam di Pulau ini, mereka melihat saya sudah tidur. Entah takut mengganggu atau sayanya yang tidur terlalu pulas, saya melwati momen itu, hahahahah. Tapi, tidur malam ini begitu memuaskan.

Paginya, kami sudah harus siap-siap. Kali ini ke sebuah titik snorkeling lagi. Banyak dari beberapa teman yang sudah urung nyemplung, karena beberapa alasan seperti "baju ganti yang sudah habis". Hahaha. Rombongan kami total 15 orang, 9 orang di antaranya adalah "rombongan" temannya teman saya yang saya lebih kenal. Enam orang lainnya, benar-benar kelompok lain yang jarang berinteraksi dengan saya. Enam orang itulah yang lebih ingin snorkeling pagi ini. Dari rombongan 9, hanya dua orang saja yang ingin nyemplung ke laut, salah satunya saya. Jadilah, nyemplung kali ini lebih sedikit.

Hasilnya, baru saja 5 menit saya nyemplung kawan saya bertanya di atas perahu, "Gimana Ul, bagus?", saya jawab "Bagus banget, lebih dalam, lebih luas". Lalu kawan saya galau, apakah memilih nyemplung atau tidak. Lima menit berlalu, saya melihat dia akhirnya memilih nyemplung dan tidak peduli mau pakai pakaian apa lagi ketika pulang nanti karena semua sudah basah. Lalu, satu orang lagi, akhirnya tergoda untuk nyemplung.

Ok, saya tidak tahu titik snorkeling ini apa namanya, yang jelas tempatnya lebih asik, lebih luas dan karena lebih luas, tidak ramai orang-orang bergerombol di air. Saya benar-benar menikmati pagi ini. Kejutannya, di titik ini ternyata ada si ikan Nemo. Tapi, kembali karena saya tidak bisa menyelam, saya acuhkan saja kabar gembira itu. Di titik ini pulahlah saya akhirnya diambil gambar oleh temanya teman saya.


Teman saya yang akhirnya memutuskan nyemplung pun tidak menyesal dengan pilihannya di kemudian jam. Akhirnya, kami menyudahi snorkling di pagi ini lalu kembali ke pantai yang ada pasir timbulnya. Kali ini pasirnya benar-benar terlihat. Di sini adalah sesinya foto-foto. Di titik yang sama  saya mengambil foto kemarin sore, saya mengambil foto lagi di pagi ini...dan hasilnya bisa berbeda.



Sebelum kami pergi dari lokasi ini, kami minum es kelapa sebentar, ditraktir oleh temannya teman saya. Sungguh nikmat.

Kami kembali ke home stay kami, mandi-mandi, beres-beres, lalu menyempatkan diri makan Mie Goreng Instan plus Telor Ceplok di warung yang kebetulan dimiliki oleh Bapak pemilih rumah tempat kami tinggal. Sambil mengobrol-ngobrol dengan Bapak pemilik rumah kami menyantap mie itu. Lalu, di sinilah sebenarnya saya pikir momen yang tepat untuk saya melihat kondisi warga setempat. Anak-anak yang asik bermain. Sejenak saya berpikir, bagaimana sistem kehidupan di sini? Logistik? Adat istiadat? Budaya? Bahkan Politik? Obrolan saya dengan si Bapak pemilik rumah terlalu singkat, hingga akhirnya tibalah saatnya kami pergi dan beranjak pulang, untuk menyeberang ke Dermaga Ketapang, lalu menuju Pelabuhan Bakauheni, ke Merak lalu Jakarta. Seandainya saya punya waktu lebih. Masalahnya, satu hari satu malam terkahir, saya belum selesai dengan diri saya sendiri: liburan sambil snorkeling.



Secara keseluruhan, liburan saya kali ini sangat menyenangkan. Meskipun travel agentnya mengecewakan, teman-teman satu pesertanya asik-asik. Entalah, asik-asiknya dari mana, meskipun saya jarang mengobrol dengan mereka, bahkan dengan kawan saya sendiri, saya tetap dapat menikmati perjalanannya. Mereka tetap mau berinteraksi, mengajak saya foto-foto, minum es kelapa dan lain-lain.

Setelah menyeberang ke Ketapang dari Pahawang, kami kembali ke Pelabuhan Bakauheni dengan memilih opsi berdersak-desak di mobil dan meninggalkan guide kami di Ketapang (toh sudah tidak terlalu berguna, hahahahah). Di tengah jalan kami sempatkan beli oleh-oleh Keripik Pisang Yen-Yen dan Makan "Siang" (yang ternyata jadi makan malam karena sampai di lokasi makan pas dengan waktu Magrib). 

Sampai di Merak, kami berpisah dengan dua rekan kami yang merupakan pasangan suami-istri baru, mereka akan menuju ke Tanggerang sedangkan kami mencari Bus yang ke arah Kampung Rambutan. Celakanya, kami sedikit salah ambil jurusan Bis yang membuat kami harus diturunkan di pintu tol Tomang dan menyeberang beberapa kali untuk sampai di titik di mana kami bisa menghentikan Taksi. Sebuah pengalaman unik. Kami berpisah di sini. Dua orang ke arah Kuningan, Dua orang Kakak beradik ke arah Bekasi (ya Bekasi...yang katanya sejauh Mars itu), dan Dua orang Kakak Beradik ke arah Setiabudi. Saya menumpang di taksi pasangan kakak-beradik yang terakhir ini yang mana si kakak adalah orang yang ternyata saya kirim-titipi uang pembayaran jasa open trip ini. Sebelum ke kos saya, taksi ke arah Setiabudi dulu untuk menurunkan si kakak-beardik ini. Saya masih utang uang taksi sama mereka. Hahahahaah

Sampai juga saya di kos, lalu mengirimkan pesan melalui Whatsapp ke rekan saya yang dulunya satu kampus ini. Menanyakan apakah aman-aman saja sampai di kos (mengingat ternyata kami sampai sekitar jam 3 pagi di kos masing-masing) dan mengucapkan terima kasih atas kerja samanya selama ini: memberikan informasi liburan ke Pahawang yang menyenangkan.

\

Jakarta 7 Juni 2015, awalnya ingin segera menuliskan perjalanan ini ketika pulang, tapi badan terlalu lelah dan waktu terlalu pagi, akhirnya bisa juga ditulis seminggu kemudian.
Akhir Mei...,

Sebuah bulan yang beberapa tahun silam sempat menjadi bulan "canda-canda-an" bagi mereka yang belum menikah-menikah.

A: "Hai, kapan nikah?"
B: "May...." (dengan kata dalam bahasa inggris)
A: "Wahh...selamat ya!"
B: "May..be Yes, May be no, May..be next year, May..be tomorrow"

Oke. Intro tidak penting.

Intro ini terinspirasi dari film yang tanpa intensi saya tonton malam ini. "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck". Karena di ceritanya, sang tokoh utama selalu batal untuk menikah.

Apa sebab? - maksudnya adalah sebab saya tetiba menonton film ini -. Jika sebab ini dirangkai, maka panjanglah jua jalan ceritanya. Hidup ini memang, rangkaian sebab-akibat-sebab yang tiada putus-putus. Entah akhirnya berakhir indah atau sedih, selalu ada hikmah di dalamnya. Hikmah yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang berhati bersih dan berakal jernih.

Film ini adalah adaptasi dari sebuah karya novel besar. Buah karya Buya Hamka, atau yang dengan nama lengkapnya Abdul Malik Karim Amrullah. Novel dengan judul yang sama, menceritakan kisah cinta anak manusia yang dibalut dalam situasi budaya dan agama yang kental, dunia sastra yang kuat, serta kritik atas kesia-siaan sebagiannya adat istiadat.

Lalu kembali, apa pula yang membuat saya jadi tertotonkan film ini?

Bermula dari cerita tentang agenda saya untuk melakukan "peremajaan" otak dan pikiran dengan asupan-asupan Novel kaya hikmah dan pesan moral karangan Tere Liye dari teman saya yang berkantor tak jauh dari tempat kerja saya (kira-kira hanya dua lemparan batu). Setiap minggu saya pinjam dari dia satu novel, hingga novel terakhir yang saya pinjam berjudul: Bidadari-Bidadari Surga. Sebuah Novel, yang juga sempat difilmkan.

Bukannya saya amat ingin menonton film itu, saya hanya penasaran bagaimana sebuah novel karangan T.L ini difilmkan. Saya tak pernah sempat menonton film-film adaptasi dari Novel T.L, maka, saya berlaku curang, mencari streaming-an di internet. Karena tak bisa pula saya temukan film ini di teater ataupun toko-toko. Ini film sudah cukup lama hilang di pasaran.

Sementara itu, beberapa saat sebelum mencari film itu di dunia maya, saya tanpa ada sebab yang khusus, terpaut pada sebuah posting senior saya. Entahlah, senior atau kolega atau saudara, saya pun bingung, karena dengannya hanya sekali saya bertemu, tapi serasa sudah dekat dan kenal lama. Di postingannya saya melihat Mars Panggilan Jihad karangan Buya Hamka. Ya, saya kenal lagu ini...lagu perjuangan...

Pencarian film Bidadari-Bidadari Surga gagal. Tak saya temukannya di streaming online. Hanya file yang harus di-download terlebih dahulu. Malas men-download, saya malah mengingat Buya Hamka. Saya telusuri saja profilnya di Wikipedia. Tersadar bahwa, pimpinan pertama MUI ini adalah juga seorang sastrawan. Ia lah sang penulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Harus saya akui, saya malah menemukan sebuah website yang berisikan streaming online film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Banyak film Indonesia di sana. Lalu, jadi pulalah saya tonton film ini karena melihat trailernya yang apik. Saya suka film dengan detail yang baik, seperti penggunaan bahasa daerah dan Bahasa Belanda yang ada di film ini. (Saya selalu bermimpi ada film macam Kerajaan Majapahit atau Kerjaan Mataram atau Kerjaan Banten yang epik dan kolosal, dengan sebenar-benarnya menggunakan bahasa yang ada di jamannya).

Baiklah, akhirnya saya tonton film ini......setelah saya tonton: Kata-Kata "Hayati...Kekasihku", "Hayati Kekasihku", "Hayati Kekasihku" terngiang-ngiang di kepala. Logat Minang (yang aku tidak tahu itu benar-benar legit atau tidak) sungguh menohok pusat berpikir dan penyimpanan ingatan. Maka saya pun jadi tertawa-tawa dalam hati. Ha ha ha ha.

Bukan-bukan, bukan saya mentertawakan film ini, saya mentertawakan diri saya sendiri...

Saya belum membaca novelnya, ada rasa bersalah jika saya menilai film ini jika belum membaca karya aslinya. Tapi, film ini saya katakan bagus. Membuat saya ingin segera meng-koleksi bentuk Novelnya. Pastilah, apa yang ditekankan di Novel, bisa jadi berbeda yang diperdalam dalam film. Generasi saya, menyaksikan ini dengan lebih jelas dalam rangkaian sedekade Serial Novel Harry Potter dan film-filmnya yang juga berjarak awal dan akhir tak kalah panjangnya.Novel menjadi Film banjir hadir di masa remaja saya.

Melihat film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang bagus dan penuh makna, tak sabaran rasanya ku membaca Novelnya. Lalu aku terhenyak...

Saya membacanya di Wikipedia bahwa buku sastra yang terbit di Tahun 1939 ini (pernah) menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia. Lalu, di mana saya hidup kala novel ini jadi bacaan wajib? Bahkan katanya orang-orang Malaysia pun mewajibkannya. Iya! Di streaming online, pantas saya melihat film dari Novel ini ber-subtitle Bahasa Malaysia pula. Di negara seberang sana, pasti terkenal pulalah karya sastra ini. Kabar Wikipedia ini pastilah benar adanya. Tapi, sekali lagi di mana saya? Sekolah SD saya hingga SMA tidak pernah mewajibkan saya membaca Novel ini. Saya hanya ingat, bahwa saya gemar membaca Novel Anak-Anak Goosebumps! Meminjam sedikit Novel Lupus milik kakak-kakak saya (serta sebagian komik Serial Cantik-nya, hahahaha), mencuri-baca sekali sebuah novel berkategori "Dewasa" Ibu saya: Kincir Angin Para Dewa, Sidney Sheldon. Tapi, tak satupun dari si Buya Hamka pernah terlintas.

Apakah saat ini, sekolah-sekolah kita telah melupakannya? Melupakan kekuatan bahasa dan sastra untuk mengubah pola pikir manusia? Atau jangan-jangan setelah ada televisi, penikmat cerita lebih suka menikmatinya dalam gerak visual yang minim pesan-pesan tersirat. Ya, pesan tersirat dalam kata-kata yang justru karenanya imajinasi nilai-nilai dan pesan moral bisa terbuka seluas-luasnya. Mengasah alam berpikir manusia, membentuk prilaku dan menentukan nasib hidupnya.

Ingat sekali saya. Suatu hari di salah satu kafe roti Jogja, dosen pembimbing skripsi saya menyarankan sebuah pesan yang amat kuat soal ini. Saya datang padanya saat belum menjadi bimbingannya, dekat pun belum. Saya ke sana untuk meminta pendapat soal tema penelitian saya dan rekan-rekan. Saat itu, kami sedang mencoba ikut lomba penelitian fakultas. Dia saya kenal dosen yang terbuka dan sangat cerdas maka datanglah saya padanya.

Namun, saat itu nampaknya dia kurang suka tema penelitian saya, alih-alih dia memberikan saya masukan dengan mencoba meneliti soal pendidikan anak-anak. Soal saat ini kita selalu disuguhkan semuanya dalam bentuk visual. "Bukankan itu akan menurunkan daya asbtraksi kita?". Di akhir pertemuan, dia mengatakan mau melanjutkan membaca sebuah Novel di kafe itu. Waktu itu saya berpikir, "Hah, dosen ekonomi bisa-bisanya masih menyempatkan diri membaca karya sastra yang tidak ada bau-bau ekonominya". Di sisi lain, dialah dosen Ilmu Ekonomi ter-brilian yang pernah saya ikuti kuliahnya.

Entahlah, bangsa ini mau ke mana tanpa kebiasaan paling sederhana dan elegan: membaca. Ketika saya ditanya, "Akhir pekan mau kemana?", Saya pernah menjawab dengan "Membaca". Lalu ada kawan yang berkomentar, "Kok kayak orang tua". Saya hanya menggeleng-geleng. Apakah membaca malah jadi budaya orang tua lalu yang muda meninggalkannya. Malahan justru yang saya lihat kebanyakan dari mereka yang tua berperangai kolot dan kaku. Miskin inspirasi dan hikmah karena tertelan realita-realita dunia yang tidak menyenangkan lalu membungkus rapi-nya dalam istilah "pengalaman dan kebijaksanaan". Sekarang, mungkin anak muda mewariskan kekolotan itu dalam dua bentuk ekstrim yang berbeda: kepatuhan buta dan pembangkangan kebablasan.

Bagaimana memecah rantai ini? Apa titik awal peradaban maju? Saya berani bertaruh sepanjang hidup saya, kata kuncinya adalah membaca.Yang awal dan pertama. Ya, membaca tentu saja dengan berbeda-beda caranya. Jaman kini, membaca sastra penting untuk pendidikan anak dan remaja. Karena ia mampu memberikan pesan-pesan moral yang masuk ke dalam otak manusia. Di jaman Nabi, ini dilakukan dengan mengkaji  ayat-ayat-Nya, menulis perilakunya lalu sambung-menyambung diantarkan ceritanya dalam catatan-catatan, mengantarkan pesan-pesan yang bukan hanya perintah, tapi juga kaya nasihat dan teladan. Hasilnya, lihat peradaban Islam...yang walaupun telah luntur, tapi telah hadir memberikan kontribusinya bagi peradaban umat manusia. Lihatlah Indonesia, yang walaupun jauhnya dari dua kota suci, tetap seolah kelompok manusia yang paling banyak menerima risalahnya. Ulama-ulama, dalam pendidikan agama, di mana saja harus selalu menghidup-hidupkan tradisi ini.

yang kedua...mungkin...adalah menuliskannya..seperti yang saya lakukan dalam blog ini.
















Seminggu yang lalu, sepulangnya dari Batam ke Jakarta,  saya sudah harus siap-siap angkat barang ke kamar sementara saya dari kamar yang sudah hampir 1 tahun 10 bulan ini saya tempati. Malam itu, malam yang luar biasa macet, karena memang sedang long-weekend, untung saja saya mengantuk, jadi sepanjang perjalanan dengan DAMRI, 90%-nya saya lewatkan dengan tidur. Sampai di kamar, ingin hati beres-beres barang agar besok pagi sudah siap pindah ke kamar sebelah, tapi apa mau dikata, badan sudah lelah ingin melajutkan tidur.

Ya, kamarnya hanya berjark lima belas meter dari kamar saya. Kamar rekan kerja saya yang kebetulan pindah kos, karena butuh kamar yang lebih luas untuk menampung Istri dan anaknya yang masih berumur lima bulan dari Makasar. Kamarnya, baru jatuh tempo tanggal 25 Mei, saya menempati hingga jatuh tempo, sembari mencari kos-kos-an yang baru. Ya, saya ingin pindah kos.

Tapi, kondisi kamar ini ternyata jauh lebih baik, terutama ada dua jendela menghadap luar sehingga sinar matahari bisa dengan mudah masuk ke dalam kamar saya. Angin yang jauh lebih segar pun dapat menyelinap dengan baik. Belum lagi kasurnya yang model "spring-bad" alih-alih kasur busa yang selama ini saya pakai di kamar lama. Hmmm, saya jadi ada keinginan untuk melanjutkan kamar ini saja. Kamar ini hampir membuat saya mengatakannya "rumah" dan membuat kata "pulang" dari kantor lebih mengasyikan.

Lalu....di kamar ini saya tiba-tiba berpikir, tentang makna cinta...ahay,


Saya sampai akhir-akhir ini selalu berpikir bahwa cinta tidak dapat didefinisikan dengan jelas, tapi satu hal yang bisa menjadi tanda-tanda cinta, apapun yang kamu cintai, maka, seolah-olah dia adalah rumah bagi mu. Apapun yang kamu panggil rumah, tempat untuk pulang, maka...kamu sedang mencintai hal itu. Tempat di mana kamu melepas lelah, tempat di mana kamu dengan mudah berkeluh kesah, tempat di mana berbagi kebahagiaan, tempat kamu selalu ingin yang terbaik bagi rumah mu sendiri...cinta.

Namun, saya lalu berpikir, bagaimana dengan cinta sepasang anak manusia, dalam kasus, cinta bertepuk sebelah tangan. Di mana, satu mengganggap satu yang lain sebagai rumahnya, namun pihak yang lain tidak. Jenis cinta apa ini? Kawan saya bilang itu adalah salah satu macam kebodohan (apalagi bagi laki-laki, katanya). Baginya, jika Cinta haruslah engkau mengejar dan mendapatkannya,apapun hambatannya. Jadi cinta bertepuk sebelah tangan bukan cinta, tapi mungkin baginya sekedar kebodohan. Saya menghaluskan dengan ini saja "perbuatan filantropis kasih". Hahahahahaha.

Pikiran kawasan saya mungkin analog seperti Cinta kepada Allah, yang mana sebagian orang menganggap cinta ini muncul karena kita ingin mendapatkan Surga-nya dan bukan Neraka-nya. Cinta seperti sebuah laku karena adanya carrot and stick. Tapi, bukannya kita memang disuruh masuk surga dan jauh-jauh dari Neraka. Dia yang memerintah. Jadi Cinta kita adalah untuk selalu patuh dengan perintah-Nya. Bukan sekedar mengharapkan surga-Nya?

Namun, Jika Dia memerintahkan masuk ke Neraka, padahal kita sudah berbuat baik, jika memang Cinta, bukankah kita harus patuh? untuk masuk neraka? Tapi, bukannya jadi aneh: Wahai manusia berbuat baiklah, maka kalian Aku akan masukan ke dalam Neraka. Berbuat jahatlah, maka aku akan masukan ke dalam Surga. Lalu, jika ada perintah semacam itu, jadi apa dunia ini?

Saya tidak peduli, cinta saya hanya punya satu tujuan, pulang ke Rumah-Nya, melihat dekat Wajah-Nya..damai abadi selamanya...dan tentu saja itu bukan di Neraka.

Saya juga tidak peduli, jika cinta saya kepada seseorang harus berakhir pada drama "bertepuk sebelah tangan", "tercampakan", "tak tersambut". Mencintainya dalam batasan-batasan, anggap saja sebuah bentuk kebaikan yang memberikan pahala. Bedanya, saya tidak bisa (tidak boleh) lebih jauh-jauh masuk ke dalamnya. Mengenalnya saja, bercanda, bertukar pikiran sudah sebuah ketenangan dan banyak hikmah dan pembelajaran. Karena cinta itu seperti rumah. nyaman dijadikan tempat kembali. Bukankah, cinta juga tidak mesti adalah "pernikahan", sahabat atau teman juga bisa saling mencinta...

Baiklah inilah caraku mencinta, tak peduli kata kawan saya yang menganggapnya kebodohan. Bukannya percaya Allah dalam kaca mata sains materalistis juga sebuah kebodohan? karena Cinta bukan masalah Pintar dan Bodoh di otak kepala. Cinta ada dalam lerung hati...















Tidak ada yang spesial di akhir pekan ini, saya tidak ke mana-mana di waktu harinya. Kamis dan Jum'at badan terasa sudah mulai tidak enak badan, tanda mungkin week-end ini saya harus istirahat saja sambil menyelesaikan bacaan sebuah novel.

Kesimpulan 1: saya kurang olaharaga. Dengan "daya gedor" tubuh saya selama ini saya kekurangan asupan pembangun vitalitas. Dulu, mungkin di jogja dengan segala kegiatannya jauh lebih menyita pikiran dan tenaga, saya tetap rutin berolahraga. Sekarang tidak. Beruntung, pertemuan dengan sahabat di Bappenas kemarin menginformasikan bahwa ada sebuah komunitas futsal rutin yang sering dia ikuti (sebenarnya dia ikut basketnya). Gratis? Mungkin... hanya untuk ke sana saya harus naik KRL sekali.
Akhirnya, setelah sekian lama menahan keinginan yang kalah karena mungkin karena sekedar malas, hujan, atau ada kegiatan lainnya, saya menyempatkan main  ke Crystal of Knowledge, alias Perpustakaan UI.

Sebenarnya, ingin bertemu sepupu yang memiliki cita-cita masuk ke UI. Ada yang ingin dibicarakan, hal cukup penting, mungkin dengan diajak bertemu di UI dia akan lebih semangat (walau sudah pernah gagal ujiannya dan walaupun saya lebih senang dia mencoba ke UGM). Dia adalah anak dari bibi saya, yang berarti Sepupu saya. Bibi yang sejak entah 1994 atau 1995 pindah ke Jakarta. Saya ikut mengantar kepindahan itu saat saya berusia 8 tahunan. Mungkin sepupu saya ini masih sedang dibuat atau dalam kandungan. Saat itu, kurang lebih dua minggu saya di Jakarta dan merasakan betapa saya sangat senang bisa bermain di Sea World untuk yang pertama kalinya (dan baru sekitar 16 tahun kemudian saya ke sana lagi).

Tapi, akhirnya sepupu saya tidak bisa. Dia tidak bisa datang. Tak apa, saya memang dari kemarin-kemarin ingin ke Perpustakaan UI. Walau sempat mengurungkan niat karena cuaca yang berkenan hujan (saya sangat takut terkena hujan karena belakangan dapat segera membuat sakit), tapi akhirnya saya pergi juga sendirian dengan menggunakan KRL dari Stasiun Gondangdia yang bisa saya tempuh 15 menit berjalan kaki dari kos.

Dua buku sudah saya siapakan, IELTS Vocab (hanya dibawa tanpa ada niat dibaca) dan sebuah Novel pinjaman yang niatnya ingin saya selesaikan akhir pekan ini. Sampai sana, ternyata saya sadar bahwa cukup terlambat karena jam 4 semua akan tutup. Jadi, semua terpotong karena saya tidak tahu di mana tempatnya, ketika di sana saya memutar-mutar dulu mengetahui keadaan, dan terakhir mencari makan siang yang saya santap ketika telah masuk waktu Ashar. Alhasil, tidak ada yang dibaca di sana. Saya pulang dengan niat akan kembali minggu depan di waktu pagi-pagi sekalian.

Novelnya aku Selesai-kan minggu malam.

Ketika menulis blog ini saya sadar bahwa saya ternyata meLupakan sesuatu. Bahwa semenjak bulan lalu saya mencoba mendaftar sebuah web bernama Meet-up. Sebuah platform yang mengajak komunitas utuk dapat ketemuan rutin sebulan sekali. Saya mencoba Jakarta Book Club. Sabtu ini ada agenda pertemuan. Bulan lalu saya tidak bisa hadir karena bertepatan dengan tes IELTS, dan bulan ini terlupakan karena niat saya untuk bertemu Sepupu bercampur penasaran dengan Perpustakaan UI yang alhasil melupakan email yang sebenarnya sudah berbaik hati menginformasikan pertemuan ini.